Tuesday, 25 October 2011

Aku Hari Ini

Di kedinginan dinihari tadi yang dihiasi gerimis malam, aku terjaga dari lenaku. Jam baru menjenguk 3 pagi. Sudah berkali-kali aku begini. Tidurku sekarang awal, terlalu awal. Bangunku awal, malah teramat awal. Tak tau kenapa jadi begitu. Tapi memang begitulah sejak beberapa lama kebelakangan ini. Kalau tak tidur awal memang susah nak tidur. Tak tidur langsung, sampai ke pagi. Jadi dah macam extream, extreamist. Tapi aku bukan extreamist, aku idealist. Itu dulu. Kini mengenali realiti hari ini, aku lebih realist, lebih praktikal, lebih kepada hakikat. Pasrah.

Dah terbangun awal, tak tau nak buat apa. On lampu, ku tatap wajahku di cermin, mencermin diri dan aku melihat diri sendiri. Tiba-tiba aku mendapat idea. Maka terlahirlah sajak “Dalam Cermin Itu”. Aku bukan pakar bahasa tapi aku rasa ada unsur abstrak pada sajak itu. Kalau ada yang bertanya apa maksud sajak tu, hahaha, aku pun tak faham tapi ia lahir dari jiwa, dari hati. Bila baca balik, erm bukan lah abstrak sangat. Takpe lah, biarlah orang yang menilai. Yang langsung tak mengenali saya mungkin akan mengtafsirnya secara lain dan bagi yang mengenali mungkin mengtafsirnya secara lain. Tak kenal maka tak cinta. Begitu lah kata pepatah orang tua. Kata orang muda. Memang tak kenal maka tak cinta, itu mungkin. Tapi kadang –kadang kalau dah kenal bukan bertambah cinta tapi menyesakkan dada. Sendiri mau ingat la.

Siap sajak itu, aku postingkan ke blog aku, Mindaluka. Aku baca kembali dan aku on lagu Pelangi Petang dendangan arwah Sudirman Hj. Arshad di Blog ku. Erm baru ada feel sikit. Dinihari ini, aku layan diri dengan melayan perasaan. Bila layan perasaan maka aku terkenang kembali peristiwa itu. Dan aku baca kembali cerpen itu dan baru ku sedar hari ini telah hampir setahun peristiwa itu berlaku. Cepatnya masa berlalu meninggalkan kita dan berlari-lari meninggalkan detik-detik dulu menjadi minit menjadi hari dan hari-hari dulu menjadi semalam, menjadi kelmarin, menjadi minggu, menjadi bulan dan menjadi tahun. Aku jadi apa? Dia dah bagaimana?

Aku percaya hidup kita sudah dilandaskan oleh Allah menjadikan diri kita dan Dia tau itulah yang terbaik untuk hambanya yang itu, yang ini dan yang di si nun. Ianya berdasar kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pastilah bersebab dan sebab-sebab itulah menjadikan kita hari ini. Sebab-sebab itu mungkin merupakan sikap, tindakan, perbuatan dan perlakuan kita yang membentuk dan menjadi diri kita hari ini yang akhirnya menjadi persepsi pada orang lain menilai diri kita. Jadi kata orang tua-tua sebab pulut santan binasa sebab mulut badan merasa. Kata orang muda-muda sebab pulut durian banyak yang masuk IJN. Sebab mulut elok beli insuran. Hahahah, maaf aku yang kata.


Salam,
Nur Pelangi

Dalam Cermin Itu

Dalam cermin itu,
Kelihatan seorang hamba hina,
Menangis meratap hiba,
Menginsafi diri,
Merayu moga masa - masa itu,
Dapat diputar-ulang kembali,
Biar untuk sedetik minit,
Untuk dihiasi sekelumit budi.

Dalam cermin itu,
Kelihatan seorang manusia durjana,
Berlari-lari mengejar masa,
Dihambat bayangan masa-masa lalu,
Menari-nari digamit mimpi-mimpi ngeri,
Pedih pilu nyeri menyusuk segenap sendi,
Lemah longlai dimamah putaran hari kini.

Di dalam cermin itu,
Kelihatan seorang hamba hina,
Kelihatan seorang manusia durjana,
Terpekik terlolong mengilai nyaring,
Menangis ketawa seiring sekata,
Bersedih gembira sama senada,
Apa mereka sudah gila,
Pada satu ada dua.

Pada cermin itu,
Berbalam-balam membentuk rona,
Membentuk seraut wajah, berwajah-wajah,
Aku kah itu?


Salam,
Nur pelangi